Algoritma dan Kekuasaan: Geopolitik AI dan Ketimpangan Epistemik Global Eko Ernada
Algoritma dan Kekuasaan:
Geopolitik AI dan Ketimpangan Epistemik Global
Abstract
Artikel ini menganalisis bagaimana kecerdasan buatan (AI)-khususnya sistem bahasa seperti
ChatGPT dan DeepSeek-berfungsi sebagai instrumen dominasi geopolitik yang membentuk
hierarki pengetahuan global dan mereproduksi ketimpangan epistemik antara Global Utara dan
Global Selatan. Menggabungkan epistemologi kritis dengan beragam lensa teori Hubungan
Internasional, termasuk konstruktivisme, teori kritis, postkolonialisme, realisme, dan pendekatan
feminis, artikel ini menawarkan kerangka analitis yang lebih komprehensif untuk memahami
bagaimana algoritma tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga sarat dengan nilai, ideologi, dan
norma politik global yang memengaruhi konstruksi realitas serta legitimasi pengetahuan. Artikel ini
menyoroti dominasi negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China dalam membangun
arsitektur AI yang menempatkan negara-negara berkembang pada posisi rentan secara digital dan
epistemik. Kesenjangan dalam literatur yang mengintegrasikan dimensi geopolitik, epistemik, dan
dinamika kekuasaan teknologi masih signifikan, sehingga artikel ini mengisi celah tersebut dengan
menekankan perlunya tata kelola AI global yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berlandaskan prinsip
dekolonisasi epistemik, demi mendukung distribusi pengetahuan yang lebih setara di era digital.
Keywords: Kecerdasan Buatan, Geopolitik Digital, Konstruktivisme, Dekolonisasi Epistemik, Tata Kelola Global AI
Topic: Sustainable Uncertainty Politics in the Digital Age